Desa Tumbang Habangoi merupakan desa gerbang pendakian Bukit Raya jalur Kalteng. Secara administratif berada di Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan Tengah.

Nama Desa ”Tumbang Habangoi” mempunyai arti yaitu, ”Tumbang” yang berarti muara dan ”Habangoi” yang merupakan nama sungai. Jadi, Desa Tumbang Habangoi berarti desa yang terletak di muara Sungai Habangoi. Menurut sejarah yang dihimpun dari beberapa tokoh masyarakat Tumbang Habangoi serta bukti-bukti lainnya, Desa Tumbang Habangoi bermula dari sebuah perkampungan di muara Sungai Samba yang diberi nama Rantau Bayan dengan pendirinya bernama Raden Naung.

Setelah perjanjian perdamaian Tumbang Anoi (1894), Rantau Bayan pindah ke muara Sungai Pasaoi dengan didirikannya pemukiman baru oleh Raden Naung yang diberi nama Tumbang Pasaoi. Pada jaman itu Raden Naung merupakan pemimpin wilayah dari beberapa desa lainnya yang disebut Demang atau camat pada jaman sekarang. Kepemimpinan Raden Naung digantikan oleh Singa Apui. Masih pada jaman penjajahan Belanda, Tumbang Pasaoi pindah ke muara Sungai Habangoi. Perpindahan ini juga disebabkan karena terjadinya wabah kolera yang menyerang masyarakat. Selain ke muara Sungai Habangoi, sebagian masyarakat juga ada yang pindah ke Tumbang Tihis di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Pemukiman baru yang berada di muara Sungai Habangoi tersebut diberi nama Tumbang Habangoi. Kepala Kampung pertama di Tumbang Habangoi adalah Mangku Lhawan.

Budaya yang berkembang di masyarakat desa Tumbang Habangoi adalah adat istiadat suku Dayak Ot Danum/ Uud Danum, sebuah suku besar yang banyak mendiami daerah hulu sungai di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Dohoi atau Kadorih. Upacara adat masih sering dijumpai pada saat pelaksanaan upacara kematian (Nyorat), pesta pengangkatan tulang (Tiwah), nikah adat (Ticak kacang), selamatan (Bayar hajat), pembersihan kampung (Menyanggar), minta rezeki (Mengeriyau), pengobatan (Nenung) dan ritual sebelum pendakian Bukit Raya.

Jumlah penduduk Desa Tumbang Habangoi sampai dengan Maret tahun 2018 sebesar 930 jiwa dengan jumlah laki-laki sebesar 498 (53,54%) jiwa dan jumlah perempuan sebesar 432 (46,46%) jiwa. Desa Tumbang Habangoi memiliki 240 Kepala Keluarga. (KK). Oya, agama yang dianut oleh masyarakat di Desa Tumbang Habangoi adalah Hindu Kaharingan.

Di Desa Habangoi banyak terdapat potensi jasa lingkungan dan wisatanya juga lho, seperti: Air Terjun Musang, Sungai Ngen yang dijadikan sebagai sumber air bersih, Sungai Habangoi, Sungai Samba. So, jika kalian mampir ke desa ini, jalan-jalan berkeliling desa ya… dan rasakan keramahan penduduk khas suku Dayak Ot Danum dan nikmati suasana alam serta pedesaannya.