Desa Rantau Malam merupakan desa gerbang pendakian Bukit Raya jalur Kalimantan Barat.

Jika menyusuri Desa Rantau Malam, Anda akan menemukan harta karun berupa adat-istiadat khas suku Dayak Uud Danum, sejarah, kerajinan, alam dan sumber dayanya dan keramahan masyarakatnya. Yuk, kita mengenal lebih dekat dengan Desa ini!

Desa Rantau Malam adalah salah satu dari 38 desa yang termasuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Serawai Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat. Desa ini memiliki luas sekitar 101,00 km² atau sekitar 0,05% dari keseluruhan total wilayah Kecamatan Serawai.

Sejarah Desa Rantau Malam  dimulai saat Macan Ondo yang merupakan keturunan dari Panembahan Sintang lari dan tinggal di hulu sungai dikarenakan adanya tekanan dari penjajah Belanda. Beliau pindah ke Nanga Suai yang terletak di seberang Kampung Unit. Kemudian Macan Ondo memanggil kembali masyarakat dan menentukan daerah yang dapat dijadikan  lokasi  pemukiman dengan menancapkan tiang pertama di Betang pada tahun 1920-an. Lokasi tempat mereka bermukim dinamakan Korong Ondo (sekarang dikenal dengan Rantau Malam). Selanjutnya nama Korong Ondo diganti dengan Rantau Malam. Hal ini dikarenakan jika orang-orang merantau atau pergi ke tempat tersebut, mereka akan tiba pada malam hari.

Suku yang mendiami Desa Rantau Malam adalah Suku Dayak Uud Danum. Uud artinya hulu dan Danum artinya air/ sungai. Jadi Suku Dayak Uud Danum adalah orang dayak yang tinggal di hulu sungai.

Budaya dan adat masyarakat Dayak Uud Danum di Desa Rantau Malam masih kental. Beberapa aktivitas masyarakat selalu dihubungkan dengan adat dan budaya setempat yang telah mereka terapkan secara turun-menurun dari jaman nenek moyang. Adapun budaya yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Suku Dayak Uud Danum di Desa Rantau Malam yaitu: Dalo’ (upacara kematian pengangkatan tulang dari kuburan kemudian disimpan dalam sandung)), Nyorat (dalo’ kecil, dilaksanakan setelah prosesi penguburan mayat), Hosaki (nikah adat), Nyahki Dilit (acara selamatan 7 bulan), Hopong (upacara penyambutan tamu), Nohkak Hajat (upacara membayar hajat), Bahajat (upacara memberi sesajen dengan harapan hasil panen dan buah memuaskan), Nyukuih Hajat (ritual sebelum dan sesudah mendaki ke Bukit Raya).

Desa Rantau Malam juga terdapat peninggalan budaya lho, yaitu: rumah betang yang merupakan satu-satunya rumah betang yang masih tersisa di daerah hulu Serawai), toras (tempat mengikat korban sapi/ kerbau), temaduk, sepunduk, tajahan (rumah kecil tempat berhajat), sandung (tempat menyimpan tulang-belulang orang yang telah meninggal).

Selain budaya masyarakatnya yang unik, Desa Rantau Malam juga memiliki kerajinan tangan yang keren kayak mandau, gelang, pekaru’, tengkalang, tombak, perisai, tikar lampit, kursi rotan, tikar pandan dan lain-lain. Kerajinan tangan tersebut dibuat oleh masyarakatnya dengan menggunakan bahan-bahan alami lho, seperti: rotan, resam, pandan kajang, kayu nibung. Jika kalian tertarik untuk memiliki kerajinan tangan khas Suku Dayak Uud Danum dari Rantau Malam, cuss ke Rantau Malam dan silahkan bernegosiasi dengan pengrajinnya, ya!!

Sangat tepat jika desa Rantau Malam kamu masukkan list destinasi wisata yang wajib dikunjungi. Kamu bisa berkeliling mengunjungi beberapa objek wisata yang terdapat di Desa ini. Berbicara tentang alamnya, Desa Rantau Malam menawarkan pemandangan topografi perbukitan dan dataran tinggi yang bergelombang, sungai-sungai yang mengalir dengan air jernih, seperti: Sungai Serawai, Sungai Lihkut Lobuk, Sungai Unit, Sungai Selamur dan Sungai Remukoi. Bagi kalian wahai para pemburu air terjun, dua tempat ini tidak boleh dilewatkan. Mereka adalah Air terjun Seruhoi dan Air Terjun Sungai Unit.